28 November 2016 15:00 wita, Mulai Perjalanan dari office Samarinda ke PT HPM di Busang, Kutai Timur, beginilah suasana dijalan Juanda kota Samarinda ketika musim penghujan ada banjir yang lumayan menghambat perjalanan, Alhamdulillah kita pakai kendaraan yang agak tinggi, jadi lumayan aman dari banjir, kembalikan lagi pada Alloh Ta'ala bahwa ini semua kehendak Alloh yang pasti akan ada hikmahnya...
RAHMAT ALFURQON RZSY
Rabu, 21 Desember 2016
28 November 2016 15:00 wita, Mulai Perjalanan dari office Samarinda ke PT HPM di Busang, Kutai Timur, beginilah suasana dijalan Juanda kota Samarinda ketika musim penghujan ada banjir yang lumayan menghambat perjalanan, Alhamdulillah kita pakai kendaraan yang agak tinggi, jadi lumayan aman dari banjir, kembalikan lagi pada Alloh Ta'ala bahwa ini semua kehendak Alloh yang pasti akan ada hikmahnya...
Bunga teratai
Mekar pada waktunya, dan kuncup pda waktunya,,,.masa masa magang waktu sekolah kami hampiri banyak tetumbuhan disekitar perkebunan sawit dan karet, setibanya dirumah pelanggan PLN yang mengalami trouble dilistrik rumahnya, disamping rumah beliau terlihat tetumbuhan bunga bunga teratai yang lagi bermekaran, indah dimata ketika memandang ....
Terapkan hukum Alloh
JIKA KALIAN JUJUR INGIN MENERAPKAN HUKUM ALLAH, MAKA HUKUM ALLAH TERBESAR ADALAH TAUHID
JIKA KALIAN JUJUR INGIN MENERAPKAN HUKUM ALLAH, MAKA HUKUM ALLAH TERBESAR ADALAH TAUHID
Kita sejalan dengan mereka (Khawarij) di atas prinsip hakimiyah (tidak ada hukum selain hukum Allah), namun kita katakan kepada mereka, “Jika kita meyakini hakimiyah, maka wajib atas kita untuk memulai dengan ibadah, karena Allah Ta’ala berfirman:
ٍ إِنِ الْحُكْمُ إِلا لِلَّهِ أَمَرَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ
“Tidak ada hukum selain hukum Allah, Dia memerintahkan agar kalian tidak beribadah kecuali kepada-Nya, itulah agama yang lurus, namun kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Yusuf: 40)
Wajib atas kita untuk menjelaskan tauhid ibadah kepada manusia, dan kita perangi kesyirikan yang dilakukan oleh pemerintah dan rakyat, dan kita arahkan dakwah kita kepada pemerintah dan rakyat.
Jadi perkara yang pertama kali kita perbaiki adalah akidah mereka, sebelum kita memperbaiki politik mereka, sebagaimana yang telah dilakukan oleh para nabi alaihimush shalatu was salam.
Para nabi datang dalam keadaan para penguasa menyimpang. Mereka sama sekali tidak menerapkan syari’at Islam untuk mengatur rakyat mereka. Mereka hanyalah mengatur rakyat dengan berbagai kebathilan, kesesatan, dan penyimpangan yang menyelisihi manhaj manhaj para rasul.
Namun para nabi tidak datang dengan mengatakan, “Demi Allah, pada kalian (para penguasa) terdapat penyimpangan dalam penerapan hukum, tidak ada hukum selain hukum Allah, kami akan merebut kekuasaan kalian, karena kalian tidak menerapkan hukum Allah.”
Tidak demikian, mereka hanyalah memulai dakwah dengan akidah, mereka memulai dengan menunjukkan akidah yang benar kepada penguasa dan rakyat.
Wahai saudaraku, jika akidah penguasa baik maka akan baik pula akidah rakyat. Urusan akan menjadi baik jika baik akidahnya.
Maka komitmenlah terhadap perintah Allah, dan kenalkan kekuasaan Allah, keagungan-Nya, kemulian-Nya, dan hak-Nya. Dan diantara hak-Nya atas para hamba-Nya adalah agar mereka berhukum dengan syari’at-Nya.
Tetapi jika engkau datang dari jauh sudah memeranginya dalam masalah hakimiyah, engkau mengumpulkan rakyat di belakangmu dari berbagai golongan; ada yang tukang khurafat, ada yang dari Rafidhah, dari Nasrani, Yahudi, dan sosialis, dan engkau mengumpulkan umat di belakangmu saja sampai engkau menggulingkan pemerintah agar engkau yang meraih kursi kekuasaan, dan jika engkau telah meraihnya engkau tidak akan menerapkan syari’at Allah.
Yang semacam ini sekarang ini terjadi dan ada, kenapa?! Karena awalnya sudah rusak, dan akhirnya lebih rusak lagi.
Seseorang yang memulai dengan permulaan yang baik saja bisa menyimpang, lalu bagaimana jika awalnya sudah menyimpang?! Apa yang ditunggu atau diharapkan darinya?!
Jadi penyimpangan dari dakwah para nabi merupakan penyimpangan yang sangat berbahaya sekali.
Apakah engkau lebih tahu dibandingkan Allah?!
Apakah engkau lebih tahu dibandingkan para nabi?!
Apakah engkau lebih tahu tentang hal-hal yang akan menyebabkan kebahagiaan umat dibandingkan Rabbul Alamin, dibandingkan rasul utusan Rabbul Alamin, dan dibandingkan para nabi semuanya?!
Maha Suci Allah dari semua itu dan alangkah jauhnya Rasul-Nya shallallahu alaihi was sallam dari hal itu.
Ini adalah manhaj yang jelas dalam al-Qur’an, Allah telah memaparkannya sejak zaman Nuh hingga zaman Muhammad shallallahu alaihi was sallam, dan para nabi sama sekali tidak berselisih dalam masalah ini selama-lamanya.
وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُوْلٍ إِلاَّ نُوْحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدُوْنِ
“Kami tidaklah mengutus seorang rasul pun sebelum engkau kecuali Kami wahyukan kepadanya bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak dibadahi dengan benar kecuali Aku, maka sembahlah Aku saja.” (QS. Al-Anbiya’: 25)
***
Sumber: Adz-Dzari’ah Ila Bayani Maqashid Kitab asy-Syari’ah, jilid 1 hlm. 103-104
JIKA KALIAN JUJUR INGIN MENERAPKAN HUKUM ALLAH, MAKA HUKUM ALLAH TERBESAR ADALAH TAUHID
JIKA KALIAN JUJUR INGIN MENERAPKAN HUKUM ALLAH, MAKA HUKUM ALLAH TERBESAR ADALAH TAUHID
Kita sejalan dengan mereka (Khawarij) di atas prinsip hakimiyah (tidak ada hukum selain hukum Allah), namun kita katakan kepada mereka, “Jika kita meyakini hakimiyah, maka wajib atas kita untuk memulai dengan ibadah, karena Allah Ta’ala berfirman:
ٍ إِنِ الْحُكْمُ إِلا لِلَّهِ أَمَرَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ
“Tidak ada hukum selain hukum Allah, Dia memerintahkan agar kalian tidak beribadah kecuali kepada-Nya, itulah agama yang lurus, namun kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Yusuf: 40)
Wajib atas kita untuk menjelaskan tauhid ibadah kepada manusia, dan kita perangi kesyirikan yang dilakukan oleh pemerintah dan rakyat, dan kita arahkan dakwah kita kepada pemerintah dan rakyat.
Jadi perkara yang pertama kali kita perbaiki adalah akidah mereka, sebelum kita memperbaiki politik mereka, sebagaimana yang telah dilakukan oleh para nabi alaihimush shalatu was salam.
Para nabi datang dalam keadaan para penguasa menyimpang. Mereka sama sekali tidak menerapkan syari’at Islam untuk mengatur rakyat mereka. Mereka hanyalah mengatur rakyat dengan berbagai kebathilan, kesesatan, dan penyimpangan yang menyelisihi manhaj manhaj para rasul.
Namun para nabi tidak datang dengan mengatakan, “Demi Allah, pada kalian (para penguasa) terdapat penyimpangan dalam penerapan hukum, tidak ada hukum selain hukum Allah, kami akan merebut kekuasaan kalian, karena kalian tidak menerapkan hukum Allah.”
Tidak demikian, mereka hanyalah memulai dakwah dengan akidah, mereka memulai dengan menunjukkan akidah yang benar kepada penguasa dan rakyat.
Wahai saudaraku, jika akidah penguasa baik maka akan baik pula akidah rakyat. Urusan akan menjadi baik jika baik akidahnya.
Maka komitmenlah terhadap perintah Allah, dan kenalkan kekuasaan Allah, keagungan-Nya, kemulian-Nya, dan hak-Nya. Dan diantara hak-Nya atas para hamba-Nya adalah agar mereka berhukum dengan syari’at-Nya.
Tetapi jika engkau datang dari jauh sudah memeranginya dalam masalah hakimiyah, engkau mengumpulkan rakyat di belakangmu dari berbagai golongan; ada yang tukang khurafat, ada yang dari Rafidhah, dari Nasrani, Yahudi, dan sosialis, dan engkau mengumpulkan umat di belakangmu saja sampai engkau menggulingkan pemerintah agar engkau yang meraih kursi kekuasaan, dan jika engkau telah meraihnya engkau tidak akan menerapkan syari’at Allah.
Yang semacam ini sekarang ini terjadi dan ada, kenapa?! Karena awalnya sudah rusak, dan akhirnya lebih rusak lagi.
Seseorang yang memulai dengan permulaan yang baik saja bisa menyimpang, lalu bagaimana jika awalnya sudah menyimpang?! Apa yang ditunggu atau diharapkan darinya?!
Jadi penyimpangan dari dakwah para nabi merupakan penyimpangan yang sangat berbahaya sekali.
Apakah engkau lebih tahu dibandingkan Allah?!
Apakah engkau lebih tahu dibandingkan para nabi?!
Apakah engkau lebih tahu tentang hal-hal yang akan menyebabkan kebahagiaan umat dibandingkan Rabbul Alamin, dibandingkan rasul utusan Rabbul Alamin, dan dibandingkan para nabi semuanya?!
Maha Suci Allah dari semua itu dan alangkah jauhnya Rasul-Nya shallallahu alaihi was sallam dari hal itu.
Ini adalah manhaj yang jelas dalam al-Qur’an, Allah telah memaparkannya sejak zaman Nuh hingga zaman Muhammad shallallahu alaihi was sallam, dan para nabi sama sekali tidak berselisih dalam masalah ini selama-lamanya.
وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُوْلٍ إِلاَّ نُوْحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدُوْنِ
“Kami tidaklah mengutus seorang rasul pun sebelum engkau kecuali Kami wahyukan kepadanya bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak dibadahi dengan benar kecuali Aku, maka sembahlah Aku saja.” (QS. Al-Anbiya’: 25)
***
Sumber: Adz-Dzari’ah Ila Bayani Maqashid Kitab asy-Syari’ah, jilid 1 hlm. 103-104
DICOPY PASTE DARI forumsalafy,net
MENJAGA DIRI DARI SYIRIK KECIL
BAGAIMANA MENJAGA DIRI DARI SYIRIK KECIL
BAGAIMANA MENJAGA DIRI DARI SYIRIK KECIL
Syaikh Al-Allamah Ubaid bin Abdillah Al-Jabiri hafizhahullah ditanya:
Pertanyaan: Penanya dari Prancis berkata: Bagaimana cara menjaga dan melindungi diri saya dari syirik yang tersembunyi. Apakah orang yang terjatuh di dalamnya itu akan masuk ke dalam neraka? Bagaimana saya bisa mengetahui kalau saya telah terjatuh di dalamnya?
Jawaban: Syirik yang tersembunyi itu adalah riya. Seperti engkau shalat karena tujuan dilihat oleh orang yang melihatmu. Misalnya engkau mengerjakan shalat dan memperbagus shalat karena dilihat orang yang melihatmu. Atau engkau bersedekah sampai manusia menyebut-nyebut dirimu. Ini adalah syirik yang tersembunyi.
Dan cara membebaskan diri darinya adalah:
Dan cara membebaskan diri darinya adalah:
Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari mempersekutukanMu dengan sesuatu, dalam keadaan aku mengetahui, dan aku memohon ampunan dosa kepadaMu yang tidak aku ketahui.
Dan adapun apakah pelakunya akan masuk neraka? Orang yang berbuat riya itu memang terancam masuk neraka. Akan tetapi dengan banyak bertaubat dan istighfar dan terus-menerus membaca doa ini seperti yang saya sebutkan kepadamu, [yaitu hadits shahih dishahihkan Al-Albani dan lainnya semoga Allah merahmati semuanya,] engkau akan aman in sya Allah dan mendapatkan taufiq untuk terbebas dirimu dari syirik yang tersembunyi, yakni riya. Naam.
Sumber : http://miraath.net/questions.php?cat=46&id=908 || http://cutt.us/eCGAW
——
تقول : السائلة أو السائل كيف أُحصن نفسي واحميها من الشرك الخفي ، وهل من وقع فيه مأواه النار ؟ وكيف أعرف أني وقعت فيه ؟
تقول : السائلة أو السائل كيف أُحصن نفسي واحميها من الشرك الخفي ، وهل من وقع فيه مأواه النار ؟ وكيف أعرف أني وقعت فيه ؟
الجواب : الشرك الخفي هو الرياء ، كأن تُصلي لنظر من يراكِ ، مثلاً تُصلين وتُحسنين الصلاة لنظر من يراكِ ، أو تتصدقي حتى يذكرك الناس ، هذا هو الشرك الخفي والتخلص منه:
أولا : بمجاهدة نفسك ما دُمتي تجاهدين نفسك وتدافعينه وتجدين في ذلك فلا بأس عليك إن شاء الله تعالى .
وثانياً :إذا كان هذا يؤثر عليكِ يعني الأعمال الصالحة ، يعني رؤية الناس تؤثر عليكِ في أعمالك الصالحة فاختفي قدر الإمكان وإذا ما استطعتي فاعزمي وابعدي عنك الوساوس ، وأنا أخشى عليكِ من الوساوس .
وأمر آخر وأخير اسكثري من هذا الدعاء ” اللهم إني أعوذ بك أن أشرك بك شيئاً وأنا أعلم ، واستغفرك من الذنب الذي لا أعلم” .
وأما هل صاحبه يقع في النار ، المُرائي مُتوعد بالنار ، ولكن كثرة التوبة والإستغفار والمُلازمة لهذا الدعاء كما ذكرت لك وهو صحيح ، صححه الألباني وغيره – رحم الله الجميع – تأمنين إن شاء الله تعالى وتوفقين إلى تخليص نفسك من الشرك الخفي الذي هو الرياء . نعم
أولا : بمجاهدة نفسك ما دُمتي تجاهدين نفسك وتدافعينه وتجدين في ذلك فلا بأس عليك إن شاء الله تعالى .
وثانياً :إذا كان هذا يؤثر عليكِ يعني الأعمال الصالحة ، يعني رؤية الناس تؤثر عليكِ في أعمالك الصالحة فاختفي قدر الإمكان وإذا ما استطعتي فاعزمي وابعدي عنك الوساوس ، وأنا أخشى عليكِ من الوساوس .
وأمر آخر وأخير اسكثري من هذا الدعاء ” اللهم إني أعوذ بك أن أشرك بك شيئاً وأنا أعلم ، واستغفرك من الذنب الذي لا أعلم” .
وأما هل صاحبه يقع في النار ، المُرائي مُتوعد بالنار ، ولكن كثرة التوبة والإستغفار والمُلازمة لهذا الدعاء كما ذكرت لك وهو صحيح ، صححه الألباني وغيره – رحم الله الجميع – تأمنين إن شاء الله تعالى وتوفقين إلى تخليص نفسك من الشرك الخفي الذي هو الرياء . نعم
dicopy paste dari forumsalafy.net
Kamis, 01 Oktober 2015
FITNAH WANITA
Bertekad untuk tidak pacaran hingga menikah
Sudah tau jodoh itu tidak tau sama
siapa dan dimana, tapi kok masih aja memelihara
kebiasaan yang di larang oleh agama, itulah nama nya pacaran, begitu
banyak sekali fitnah subhat yang di ungkapkan oleh hamba hamba yang menentang
syari’at, Alhamdulillah ana sudah keluar dari lembah pacaran yang jahiliyah itu
semoga di berikan keistiqomahan, virus merah jambu itulah yang membuat kata
galau berkecamuk dalam hati teman-teman muda mudi di zaman sekarang ini.
Kapitalis, istilah itu sangat pantas
di tempelkan di jidat kebanyakan orang di NKRI tercinta di masa sekarang ini,
tujuan hidup yang sebenar nya sdh banyak di lupakan, wanita-wanita nya
berlenggak lenggok d jalan tanpa rasa malu dan tak sedikit yang mempertontonkan
aurat nya, mereka berpakaian menyerupai laki-laki, bahkan memakai celana ketat
yang hanya menutupi kulit saja, mereka berpakaian tapi telanjang, dan
kebanyakan laki-laki nya pun berjalan dengan cepat tak tentu arah, harta,
tahta, dan wanita, menjadi tujuan tertinggi dalam hidup mereka, kenapa
begitu..? tak heran, ini sudah masuk fase akhir zaman, orang-orang telah banyak
meninggalkan manual book nya(Alqur’an dan assunnah) yang telah di turunkan
Alloh Ta’ala dengan penuh perjuangan dan pertumpahan darah dari para Nabi Nya.
Selemah lemah iman adalah membenci
degan hati, yah itulah yang bisa Ana lakukakan sa’at ini, dengan tangan belum bisa,
dengan lisan pun tak di hiraukan, bahkan di kucilkan dari kebanyakan orang,
orang-orang terdahulu sangat takut sekali dengan fitnah yg besar ini iyalah
fitnah wanita, orang zaman sekarang apa..? mencari pemuasan nafsu syahwat
dengan jalan pacaran dengan alasan “biar lebih mengenal calon pasangan” akhi wa
ukhti..!! islam memberikan solusi terbaik buat kita semua untuk mengatasi
gejolak syahwat ini yaitu “menikah, atau perbanyak berpuasa sunnah” bukan
pacaran.!!, walaataqrobuzzinaa…dst sedikit saja mendengar firman Alloh Ta’ala
orang orang terdahulu langsung katakan “Sami’na wa’ato’na”, lah orang-orang
zaman sekarang apa..? ayat alqur’an di jadikan hiasan dinding saja, namun
actual nya apa..? masih mendekati zina dengan jalan pacaran,.
Langganan:
Komentar (Atom)


